I (garuda) RI dalam Haining International Roller Skate Festival 2010

Tulisan oleh  : Mitya Fitrina

Kurang lebih dua minggu lamanya, tim Speed Skating dan Slalom Skating Indonesia meninggalkan Indonesia untuk berpartisipasi pada event internasional tahunan di Haining, China, yang berlangsung sejak tanggal 20 – 29 Agustus 2010 lalu. Beberapa dari mereka merupakan atlit kenamaan Indonesia di cabang ini, seperti: Allan Chandra, Johanes Wihardja, Ajeng Anindya, Eri Marina Yo, dan Anggi Rahmadini yang juga akan berlaga pada event Asian Games mendatang di Guangzhou, China pada bulan November 2010. Selain itu, mereka juga tengah dipersiapkan untuk mengikuti ajang kejuaraan bergengsi Asia Tenggara yaitu Sea Games XXVI, dimana Indonesia  sendirilah yang akan menjadi tuan rumahnya. Event ini akan diselenggarakan pada tanggal 11 November 2011 (11.11.11) di Palembang, Sumatra Selatan.

Event Haining Skate Festival yang lalu sendiri merupakan rangkaian agenda kejuaraan tahunan yang sudah berlangsung sejak tahun 2008 di China, dan menjadikan Haining International Roller Skate Festival sebagai International Roller Festival yang pertama di wilayah Asia (info: http://www.prlog.org/10826238-the-first-roller-skating-festival-will-be-held-in-haining.html). Total jumlah Negara yang berpartisipasi pada event tersebut lebih dari 20 negara, antaralain Swiss, Jerman, Austria, Rusia, Prancis, Amerika Serikat, Australia, New Zealand, Korea, China, China Taipei (Taiwan), Singapura, Malaysia, Thailand, Hong Kong, dsb, dengan lebih dari 500 orang atlit berpartisipasi dalam event tersebut.
Indonesia menurunkan 7 orang atlit Speed Skating, yaitu sbb:
  1. Johanes Wihardja (asal Pengprov. Riau) – Sponsored by Micro
  2. Allan Chandra (asal Pengprov. Jawa Tengah)
  3. Christian Dicky (asal Pengprov. DKI Jakarta)
  4. Ajeng Anindya Prasalita (asal Pengprov. Jawa Tengah)
  5. Eri Marina Yo (asal Pengprov. DKI Jakarta) – Sponsored by Micro
  6. Anggi Rahmadini (asal Pengprov. Jawa Barat)
  7. Tasya Fabiola Alim – kelas Junior Putri (asal Pengprov. Jawa Timur)
dan 2 orang atlit Slalom Skating, sbb:
  1. Astri Puji Lestari -sponsored by Micro
  2. Hardi Kusuma Yudha -sponsored by Micro

Speed Skate

Speed Skating, atau yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan Sepatu Roda Cepat, merupakan cabang olah raga yang sudah dipertandingkan sejak lama di Indonesia. Sepatu Roda Cepat/ Speed Skating ini telah terdaftar sebagai cabang olah raga yang resmi dipertandingkan di PON (Pekan Olah raga Nasional) sejak era 1980-an dan mulai aktif mengikuti kejuaraan tingkat internasional sejak tahun 1990-an hingga sekarang. Speed Skating ini berada di bawah naungan payung organisasi dunia FIRS (Federation Internationale de Roller Sports), berbasis di Roma – Italia (http://www.rollersports.org/datas.asp?load=622506711A003) . Sementara itu, di Indonesia sendiri cabang ini berada di bawah kepengurusan PB PORSEROSI (Pengurus Besar Persatuan Olah Raga Sepatu Roda Seluruh Indonesia) (http://www.porserosi.or.id/) yang terdaftar di dalam KONI (Komite Olah raga Nasional Indonesia).

Nomor-nomor lomba yang dipertandingkan pada kejuaraan Inline Speed Skating antara lain adalah: Marathon 42.000 m, 15.000 m Point Elimination Putra, 10.000 m Point Elimination Putri, 1000 m, Sprint 500 m, Sprint 300 m, dan Relay (beregu) 10.000 m.

“Istilah yang lebih general/ umum digunakan saat ini di Indonesia adalah Speed Skating atau Inline Speed Skating, ketimbang istilah resminya itu sendiri yaitu ‘Sepatu Roda Cepat’.”
Pada event Haining Roller Skate Festival ini, 7 orang atlit Speed dari Indonesia yang turun membawa pulang hasil yang dapat dikatakan tidak mengecewakan. Misalnya saja pada nomor 500 m Final Senior Ladies, Eri Marina Yo menduduki peringkat 5 dengan catatan waktu 48.158 detik, tepat berada di bawah Nicole Marie Begg (Team X-Tech New Zealand) yang membukukan waktu 47.372 detik. Sementara Anggi Rahmadini menduduki peringkat 6 dengan waktu 48.300 detik.
Selain itu, pada Final Marathon 42.000 m Senior Ladies, Ajeng Anindya mampu memperoleh posisi 6 dengan catatan waktu 1:13:55.733 dan Eri Marina Yo finish di posisi 8 dengan waktu 1:19:37.463.

Sementara untuk bagian Putra (Senior Men), jelas terlihat bahwa persaingan jauh lebih ketat. Hasil terbaik atlit Indonesia saat itu hanya berada pada urutan ke-17 yang ditempati oleh Allan Chandra, dan posisi ke-19 oleh Christian Dicky, pada nomor 10.000 m Final Senior Men.
Di Semi Final 500 m Senior Men, atlit Johanes Wihardja mampu membukukan waktu yang cukup baik yaitu 43.560 detik, yang bisa dibilang tidak terpaut jauh  dari juara I nomor tersebut yaitu Peter Richard Michael (X-Tech New Zealand) dengan cacatan waktu 43.477.
Selain mengirimkan atlit senior, pada event ini, Indonesia juga mengutus atlit junior terbaiknya saat ini, yaitu Tasya Fabiola Alim, asal Surabaya – Jawa Timur. Di ajang lomba bertaraf Nasional, bisa dikatakan Tasya tidak lagi mempunyai lawan tangguh yang mampu mengalahkan prestasinya. Namun sayangnya, pada Haining Skate Festival kali ini, ia hanya mampu meraih posisi terbaik dengan masuk Final 1000 m Group B Ladies (peringkat 6 besar) dan membukukan waktu terbaiknya yaitu 1:45.643.

Slalom Skate

Pada Haining Skate Festival, selain cabang Speed Skating, juga dipertandingkan cabang lainnya yang disebut dengan Slalom Skating. Jika Speed Skating telah berkembang sejak lama di negeri kita, berbeda halnya dengan disiplin yang disebut dengan Slalom Skate, yang merupakan cabang olah raga Sepatu Roda yang betul-betul masih baru di Indonesia.

Cabang ini belum mempunyai wadah organisasi resmi di Indonesia, karena baru saja diperkenalkan tahun ini pada event Pekan Olah raga Daerah (Porda) Provinsi Jawa Barat pada bulan Juli 2010 lalu. Pada event ini, pihak PB PORSEROSI mengundang beberapa atlit dari Singapura (Team Seba Singapore) untuk melakukan demo Slalom Skate dengan tujuan mempromosikan cabang olah raga ini agar bisa berkembang nantinya di Indonesia. Mereka yang diundang merupakan atlit top 5 dunia, bahkan salah satu dari mereka ada pada posisi peringkat I dunia untuk nomor Freestyle Slide.

Slalom Skate pertama kali populer di bilangan wilayah Eropa, berumur lebih dari 10 tahun, dan saat ini berada di bawah naungan WSSA (World Slalom Skaters Association)  {http://www.wssaskating.com/index.aspx}. Slalom Skate tidak  hanya populer di wilayah Eropa saja, namun kini Slalom Skating juga sudah mendunia. Hal ini terbukti dari member WSSA yang telah mencakup lebih dari 27 negara di dunia dan tingginya frekuensi event-event bertaraf internasional yang terselenggara di seluruh dunia.

Indonesia memiliki peluang yang sangat besar bagi berkembangnya cabang ini, terutama di kalangan anak muda. Sifatnya yang cenderung lebih fun, mudah dipelajari, dan jauh dari resiko yang membahayakan si pemain, tanpa mengurangi nilai keprofesionalismeannya akan lebih mudah diterima oleh si calon atlit bila dibandingkan dengan cabang Speed. Cabang Speed Skate tergolong jauh lebih serius, keras, dan juga mempunyai resiko yang lebih berbahaya bagi si atlit. Saat ini Slalom Skate dapat dijadikan pilihan kedua bagi para skaters yang ingin menggeluti dunia sepatu roda baik secara profesional maupun sekedar hobi.

Karena sifatnya yang tergolong baru di Indonesia, pengiriman dua orang atlitnya untuk berlomba di Haining Skate Festival adalah sebagai ajang pengenalan dan uji coba, baik bagi atlitnya itu sendiri maupun bagi negara-negara peserta lainnya, sebagai ‘notifikasi’ bahwa kini, Slalom Skating-pun telah ada dan mulai berkembang di Indonesia.

Sementara itu, hasil yang diperoleh untuk tim Slalom Skate Indonesia pada Haining Skate Festival yang lalu tentu saja masih jauh dari memuaskan. Namun kiprah mereka patut diacungkan jempol karena mampu bertanding dengan atlit kelas dunia yang jam terbangnya sudah sangat jauh lebih tinggi.

Dan bagi para atlit Speed Skating Indonesia, walaupun podium juara belum bisa diraih kali ini, namun bukanlah hal yang mustahil jika suatu saat nanti cabang olah raga ini bisa menjadi salah satu cabang yang mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Dukungan dari pihak pemerintah maupun swasta terus kami harapkan demi memajukan dunia olah raga di Indonesia. Teruslah berjuang demi Bangsa dan Negara Indonesia.

Hiduplah Indonesia Raya

haining1

haining2

haining3

I (garuda) RI dalam perjalanan Kencana Pradipa Tari, Psikologi UI

Dalam rangka memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia Internasional, maka Kencana Pradipa Tari selaku wadah aspirasi seni tradisional bagi mahasiswa Psikologi UI, mengikuti kegiatan festival kebudayaan yang diadakan oleh Kencana Pradipa Tari mengikuti 8 Festival Internasional di Spanyol dan Portugal. Festival tersebut juga diikuti oleh berbagai negara seperti Brazil, Cuba, Rusia, Serbia, Spanyol, Portugal, Senegal, Kenya, dan masih banyak lagi. Indonesia merupakan satu-satunya negara perwakilan dari Asia.

Persiapan latihan secara intensif dimulai sejak bulan Februari 2010 sampai dengan bulan Juni 2010. Pada bulan Februari latihan dilakukan sebanyak 2 x seminggu dan intensitasnya semakin bertambah, hingga akhirnya pada bulan Juni dilakukan 4x seminggu. Tarian yang dipelajari yaitu Tari Lenggang Nyai dari Betawi, Tari Tor Tor dari Sumatera Utara, tari Indang dan Piring dari Sumatera Barat, tari Jaipong dari Jawa Barat, tari Pakarena dari Sulawesi Selatan, tari Giring-giring dan Bambu dari Kalimantan, tari Saman dari Aceh, tari Cendrawasih dari Bali, dan tari Yospan dari Papua.

Puncak dari proses latihan di Tanah Air adalah diadakannya Pagelaran Tari Misi Budaya pada tanggal 20 Juni 2010 di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta. Pada acara ini ditampilkan tarian-tarian yang dibawakan pada Festival Internasional. Acara ini merupakan acara yang terbuka untuk umum. Pada acara ini mencakup 100 undangan yang berasal orang tua dan pihak sponsor, dan 300 habis terjual untuk umum.

Pada tanggal 29 Juni 2010, tim Misi Budaya berjumlah 32 penari, yang terdiri dari 2 koreografer, 1 pembina,1 director, 1 dokumentasi, 1 crew, 2 pemusik professional, 6 pemusik, dan 18 penari. Tiba di Madrid pada 29 Juni 2010, sore hari waktu Madrid. Kami tinggal di KBRI Madrid selama 2 hari 1 malam. Dalam dua hari tersebut kami seperti layaknya liburan karena tidak melakukan pertunjukan tari dan musik. Setelah itu, pihak panitia menjemput kami di KBRI Madrid untuk menuju ke festival yang pertama dengan menggunakan bus.

Jaen, Spanyol

Festival pertama ini bernama Festival Internacional de Musica, Baile y Canciones Populares “Folk del Mundo” yang di adakan di kota Jaen, Spanyol. Perjalanan dari Madrid ke Jaen memakan waktu yang cukup lama sekitar kurang lebih 5 jam, dan kami sampai di tujuan pada malam harinya. Di festival ini, akomodasi yang kami dapatkan sangatlah layak. Kami ditempatkan di sebuah asrama universitas yang sangat nyaman yaitu Universitas de Andalucia yang terletak di Baeza. Baeza merupakan salah satu kota yang merupakan cagar budaya di dunia, sehingga di kota ini arsitekturnya sangat menarik dan khas Eropa abad pertengahan. Pada festival ini tim kami tampil sebanyak 5 kali. Penampilan pertama berlokasi di pusat kota Jaen dan merupakan pembukaan dari seluruh rangkaian acara festival sehingga berlangsung di panggung yang sangat besar dan megah. Dalam festival ini kami bertemu dengan tim dari Negara Spanyol, Irlandia, Kenya, Rusia, dan Slovakia. Dalam rangkaian festival ini kami juga melakukan kegiatan parade dengan menggunakan kostum dari seluruh daerah. Kami berjalan sejauh kurang lebih 2 km dengan menarikan tarian-tarian dan memainkan music khas Indonesia. Warga setempat yang menonton di sekeliling barisan parade sangat antusias melihat tarian-tarian yang kami tampilkan. Setelah sampai di tujuan akhir, masing-masing negara menampilkan satu tarian andalannya dan kemudian kami semua masuk ke dalam gedung walikota untuk melakukan acara penukaran souvenir. Souvenir yang diberikan oleh kelomok kami yaitu wayang dan souvenir yang diberikan oleh pihak festival adalah guci yang merupakan kerajinan khas daerah Jaen. Secara keseluruhan antuasiasme dari penonton di festival ini sangatlah besar. Responnya sangat positif, baik untuk tarian, music, maupun kostum dan tata rias. Setelah melewati kurang lebih satu minggu di festival ini, kami pindah ke festival selanjutnya yang berlokasi di Cadiz.

Cadiz, Spanyol

Festival kedua bernama Festival Folklorico Internacional “City of Cadiz” dilaksanakan di kota Cadiz, Spanyol. Disini kami mendapatkan tempat tinggal di asrama sekolah. Tim kami memiliki sedikit masalah dengan konsumsi yang disediakan karena sangat hambar, sehingga kami harus meminta tambahan garam dan lada serta sambal dan kecap yang dibawa dari Indonesia. Dalam festival ini kami tampil sebanyak 4 kali, dimana 2 kali di antaranya tampil di gedung pertunjukan kesenian utama yang dapat disamakan dengan Gedung Kesenian Jakarta di Indonesia. Dalam festival ini kami kembali tampil berasama Kenya, Rusia, Slovakia, serta peserta yang baru ditemui yaitu Dominican Republic, dan Serbia. Dalam festival ini kami juga melakukan kegiatan parade yang diadakan di pusat perbelanjaan di kota Cadiz. Dalam parade kali ini kami menyusuri gang-gang yang dipenuhi oleh warga sekitar yang lagi-lagi sangat antusias dengan penampilan dari tim Indonesia. Cadiz merupakan kota pantai sehigga temperature di kota ini cukup tinggi dan udaranya panas. Kami memiliki 2 orang pemandu dari festival ini, satu orang laki-laki dan peremuan yang masih berprofesi sebagai mahasiswa. Pada salah satu dari penampilan kami selama di Cadiz, terdapat salah satu pengalaman yang tidak akan terlupakan, yaitu penampilan dimana Spanyol memenangkan Piala Dunia 2010. Pada saat itu kami tampil di panggung yang berlokasi tepat di tengah alun-alun kota. Ketika Spanyol menang, seluruh penduduk sekitar berhamburan ke tengah alun-alun dengan menggunakan atribut khas tim sepakbola Spanyol dan tentu saja dengan membawa bendera Spanyol. Tim kami yang tadinya mempersiapkan tarian Lenggang Nyai dan Pakarena, menggantinya menjadi Tarian Yospan dan Saman yang bersemangat mengingat emosi dari penonton yang sedang meluap gembira. Tim kami sangat senang dapat merayakan kemenangan Spanyol langsung di negara asalnya.

Lisbon, Portugal

Setelah Cadiz, kami pergi ke Lisbon, Portugal untuk memenuhi undangan dari KBRI Lisbon. Di Lisbon kami menetap selama 3 hari 2 malam dan tampil hanya satu kali saja di depan duta besar Indonesia untuk Portugal serta undangan-undangan terhormat lainnya. Pagelaran ini diadakan di sebuah museum ternama di kota Lisbon yang bernama Museo do Oriente. Pertunjukan ini khusus diadakan oleh kedutaan Portugal sehubungan dengan kedatangan kami disana jadi kami adalah penampil tunggal pada pertunjukan hari itu. Pada penampilan kali ini kami menampilkan seluruh tarian yang kami tampilkan seperti pada pagelaran yang dilakukan di Jakarta ditambah dengan Tari Saman. Walaupun kami gugup karena dilihat oleh Pak Dubes namun respon yang kami dapatkan sangat bagus, Bapak Duta Besar sangat menyukai penampilan kami. Di Lisbon ini kami juga mendapatkan suguhan makan Indonesia yang sangat kami rindukan seperti nasi kuning, ayam goreng, sambal goreng ati dan urap. Walaupun sebentar, penampilan di Lisbon ini sangat berkesan bagi tim kami dan membangkitkan semangat untuk kembali tampil di festival-festival selanjutnya.

Naron, Spanyol

Setelah penampilan kami di Lisbon, tim KP Tari dijemput oleh panitia dari tim Festival Intenacional  de Folklore de Naron di kota Naron, Spanyol. Kami tinggal di asrama di salah satu sekolah seni di Naron. Dalam festival ini terdapat empat negara yang turut berpartisipasi yaitu Indonesia, Senegal, Martinique, Galicia (Spanyol), dan Albecete (Spanyol). Dalam festival ini, kami menampilkan tarian kami dalam lima hari berturut-turut. Pada hari terakhir kami di Naron, panitia festival ini memberikan sebuah acara nonformal untuk Indonesia yang dihadiri oleh peserta lainnya. Dalam festival ini kami diperbolehkan untuk mempertujunkan tarian singkat dan mengajarkan kepada mereka. Tarian tersebut yaitu Tari Saman. Pada daerah ini kami agak sulit menyesuaikan diri dengan suhu udara dimalam hari, karena perbedaan suhu yang cukup signifikan dari sore dan malam. Padahal rata-rata setiap pertunjukan kami dilakukan dimalam hari. Pernah suatu ketika setelah pertunjukan, anggota tim kami sebagai dokumentasi mengalami menggigil hebat karena tubuhnya yang kurang sehat. Sampai-sampai ambulance pun datang menjemput. Namun, setelah dihangatkan lambat laun kondisi tubuhnya membaik. Setelah itu, kami selalu berjaga-jaga memakai pakaian yang agak tebal untuk mengantisipasi suhu udara yang turun drastis. Dalam acara ini, kami juga diperbolehkan untuk menjual souvenir-souvenir dari Indonesia seperti kaos “I Love RI”, kipas batik, dompet batik sampai gantungan kunci batik pun ada. Barang-barang jualan ini berguna untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia di kalangan masyarakat Spanyol.

Barcelos, Portugal

Festival ini merupakan festival yang diadakan di negara Portugal. Festival ini bernama Festival Internacional Folclore do Rio. Rio sendiri diambil dari nama salah satu sungai di Barcelos. Festival berlangsung selama 12 hari. Pada festival ini, kami tinggal di ruangan kelas sekolah yang diberi kasur bertingkat di dalamnya. Peserta festival ini di antaranya yaitu Indonesia, Cyprus, Perancis, Hungaria, dan Spanyol. Pada festival ini, kami tidak hanya tampil di Barcelos saja, namun di beberapa kota di Spanyol dan di luar kota Barcelos. Diakhir festival, seluruh negara menampilkan tarian tradisionalnya pada acara Gala Perform. Panggung pada gala perform ini dibangun di atas sungai Rio di Barcelos, Portugal. Pada Gala perform, kami menampilkan Tari Bambu dari Kalimantan, Tari Cendrawasih dari Bali, dan Saman dari Aceh. Untuk Gala ini kami berlatih keras 3 hari terakhir. Koreografer kami ingin menampilan tarian yang belum pernah kami tarikan pada festival-festival sebelumnya. Jadi dalam tiga hari kami mempelajari tarian baru yaitu Tari Bambu. Bahkan bambunya, yaitu property yang kami pakai, baru kami beli dan cat disana, Kami ditempatkan pada urutan terakhir sebagai penutup. Konon, sudah menjadi tradisi, negara yang dianggap oleh panitia sebagai tim terbaik akan menjadi penutup acara. Maka kami merasa sangat bangga, tim Indonesia bisa menjadi penutup yang baik pada festival tersebut.

Moncao, Portugal

Festival berikutnya yang kami ikuti bertempat di Moncau, Portugal. Festival ini bernama Festival Internacional ponte Mouro e Alvarinho. Kami kembali tinggal di area sekolah dimana ruangan kelas menjadi kamar tidur kita. Untungnya, ruangan kelas disini cukup luas sehingga dapat memuat 10 – 14 orang dalam satu kamar dengan tempat tidur yang tidak tingkat. Area sekolah yang luas ini, dihuni oleh teman sesama peserta festival dari berbagai negara. Ada Kenya, Brazil, Cuba, Senegal, Argentina, Mexico, Serbia dan Polandia. Mereka semua adalah seniman profesional dimana kebanyakan dari mereka memang berprofesi sebagai penari/pemusik di negaranya. Walaupun penari dan pemusik yang didatangkan sudah profesional,kami tetap berlatih setiap hari sampai-sampai kami tidak mendapatkan tempat untuk latihan karna berebutan tempat dengan negara lain. Akhirnya kami memutuskan untuk latihan di lapangan terbuka dari jam 10 – jam 2 siang. Tentu saja udara yang panas membuat kulit kita lebih gelap. Latihan yang keras tidak sia-sia karena penonton yang datang setiap hari selalu memadati sisi-sisi panggung. Di depan, samping kanan maupun samping kiri ada ribuan pasang mata yang melihat ke arah panggung. Semua ini membuat kami sangat bersemangat setiap hendak naik panggung dan juga setelahnya. Tidak lupa kami berjualan barang-barang yang kami bawa dari Indonesia setelah kami selesai manggung. Bahagianya kami bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda berkat penonton yang berbondong-bondong membeli barang dagangan kami. Seusai festival ini kami dijemput oleh bis festival selanjutnya yaitu festival Ourense.

Viviero, Spanyol

Pada sore hari, bis kami berhenti disebuah kota, yaitu Viviero. Tanpa ada kejelasan yang pasti dari pihak panitia, ternyata kami diharuskan untuk tampil dikota ini sebagai salah satu peserta dari festival XXXII Moistra Folklorico a Internacional pada pertunjukan penutup. Selain Indonesia, ada pula Senegal dan Brazil yang dari festival Moncau, turut tampil dalam acara ini. Mereka juga akan melanjutkan ke festival Ourense. Sesampainya disana kami sempat beristirahat sekitar dua jam sebelum pertunjukan. Peserta lain yang memang sudah ada dari awal festival ini ada berasal dari Rusia-Daguestan dan tim local dari Spanyol. Kami diberikan tempat istirahat disebuah sekolah dasar. Kami menampilkan Tari Giring-Giring dan Saman. Semakin malam semakin dingin suhu udara disana. Kami berjalan kami menembus angin kencang menuju tempat pertunjukan yang berada di dekar sekolah tersebut. Panggungnya terletak di tengah-tengah pusat kota, seperti square. Kami cukup terkesima karena ternyata penontonnya banyak sekali. Ketika kami sedang menunggu giliran perform kami disapa oleh serombongan lelaki yang ternyata berasal dari Indonesia! Ternyata mereka adalah pekerja kapal yang sedang berhenti di Spanyol mereka juga sangat senang bertemu dengan tim kami. Hampir dari seluruh pekerja tersebut sudah pernah keliling dunia bahkan sampai ke benua Amerika. Tiba saatnya kami tampil namun perbincangan terus dilanjutkan sesudahnya. Tak lama, malam itu juga kami harus sudah naik bis lagi menuju Ourense. Kota yang sebenarnya menjadi tujuan kami. Walaupun cuma beberapa jam di kota Viviero, namun kota itu cukup membekas diingatan kami karena pertemuan kami dengan warga Indonesia yang bekerja dinegeri orang.

Ourense, Spanyol

Selanjutnya adalah festival yang bertempat di Ourense. Festival Xornadas de Ourense ini berlangsung antara 9 Agustus hingga 19 Agustus 2010. Kami ditempatkan di asrama yang diperuntukkan bagi dosen. Di sini kami tinggal bersama kelompok dari negara Kenya, Rusia Daguestan, Polandia, Argentina, dan Serbia. Sementara Brazil, Meksiko, Spanyol, Senegal, dan Cuba tinggal di tempat yang berbeda. Pihak panitia menyediakan 11 kamar untuk kami yang terdapat di lantai yang sama. Tiap blok terdapat dua kamar, dimana tiap blok terdapat tiga westafel, tiga toilet, dan tiga kamar mandi. Tiap kamar terdiri dari tiga tempat tidur beserta tiga meja dan juga lemari yang besar. Terdapat satu kamar khusus yang diperuntukkan bagi koreografer.

Ruangan yang diperuntukkan untuk makan cukup luas. Kami tidak perlu terburu-buru untuk bergantian tempat dengan negara lain. Hanya saja, kami tetap perlu mengantri dengan panjang karena keseluruhan negara makan di tempat yang sama. Menjelang puasa, panitia menyediakan makanan untuk sahur yang dapat diambil setelah tiba dari tempat pertunjukan. Panitia juga menyediakan makan untuk berbuka puasa. Sedangkan bagi yang tidak berpuasa tetap dapat makan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Selain Indonesia, Senegal dan Rusia Daguestan juga menjalankan ibadah puasa. Tidak jarang, Indonesia dan Rusia Daguestan melakukan ibadah shalat tharawih bersama di ruang televisi.

Pihak panitia memberikan satu ruangan pribadi yang sangat layak yang diperuntukkan untuk alat musik, kostum, serta barang-barang lain untuk masing-masing negara. Berbeda dengan festival sebelumnya, di festival ini kami tidak mendapatkan jadwal dari jauh-jauh hari. Sekalipun jadwal telah kami miliki, jadwal tersebut harus dikonfirmasi terlebih dahulu kepada ketua penyelenggara untuk memastikan apakah ada jadwal yang diubah atau tidak. Di festival ini pun kami tidak mendapatkan name tag, sehingga ketika kami keluar dari tempat penginapan, kami tidak memakai tanda pengenal apapun. Ada tiga guide yang mendampingi Indonesia. Mereka baik dan mudah bergaul namun kami memiliki sedikit kendala dalam berkomunikasi karena mereka tidak begitu fasih dalam berbahasa inggris.

Dua hari pertama di festival ini merupakan hari bebas kami. Tidak ada penampilan di malam harinya. Di hari selanjutnya, kegiatan kami berlangsung seperti biasa. Ada 8 penampilan di tempat yang berbeda dan dengan kelompok yang berbeda. Indonesia tidak pernah menjadi penampil terakhir tetapi tetap dapat memukau penonton dengan tipe kebudayaan yang berbeda dari negara lain. Tarian yang kami bawakan di festival ini adalah Tari Giring-giring dari Kalimantan, Tari Cendrawasih dari Bali, dan Tari Saman dari Aceh. Penonton begitu antusias ketika melihat Tari Saman. Hal ini mungkin dikarenakan oleh tidak lazimnya menari sambil duduk. Yang menjadi masalah pada hampir keseuruhan penampilan adalah suara dar alat music yang dimainkan tidak begitu terdengar sehingga penampilan dirasa kurang maksimal. Selain menari, ada pula kegiatan parade yang ditujukan untuk menarik perhatian warga agar datang ke tempat pertunjukkan. Saat parade, Indonesia berada di antara kelompok dari Senegal dan Kenya dimana alat musik mereka sangat keras terdengar yang membuat alat musik dari Indonesia tidak terdengar.

Di luar pertunjukkan, panitia menyediakan hari untuk para peserta bertanding dalam permainan lempar bola. Pertandingan ini ditujukan untuk mengakrabkan peserta antar negara. Selain itu, ada pesta dimana semua peserta dari berbagai negara dapat bersenang-senang bersama. Panitia juga menyediakan hari untuk berjalan-jalan mengunjungi tempat menarik di kota ini. Sayangnya, panitia tidak menyediakan layanan wi-fi di tempat penginapan ini sehingga kami perlu pergi ke café atau pusat perbelanjaan untuk mendapatkan layanan wi-fi. Namun ada petugas keamanan yang menawarkan jasa internet di ruangannya kepada kami. Kami juga merasa sangat dibantu oleh panitia ketika ada telepon genggam milik salah satu dari kami dan juga properti tari kami yang tertinggal. Panitia berusaha mencarinya dan memberikannya kembali pada kami.

Hal yang menarik di festival ini adalah kami bertemu dengan lebih banyak kelompok dari Negara lain. Di festival-festival sebelumnya, negara yang ada tidak sebanyak di Ourense, kecuali di festival Moncao karena hampir semua negara yang ada di festival Ourense berasal dari festival di Moncao. Oleh sebab itu, kami memiliki lebih banyak kenalan daripada festival-festival sebelumnya. Sebagai kenang-kenangan, kami memberikan kaos I RI kepada mereka yang cukup dekat dengan kami, yaitu Negara Polandia dan Kenya. Di festival ini, kami melewati hari kemerdekaan Indonesia tanpa perayaan apapun. Namun, kami sepakat untuk memakai kaos I RI sebagai perayaan kecil di hari kemerdekaan Indonesia. Tak disangka, teman kami dari Negara Polandia juga mengenakan kaos I RI. Katanya, dia juga ingin merayakan hari ulang tahun Indonesia. Sungguh membuat kami terharu.

Kelompok kami mendapatkan teguran dari pihak panitia karena meninggalkan begitu banyak sampah di tempat penginapan. Sampah tersebut begitu banyak dan tercecer di seluruh penjuru kamar sehinga menyulitkan petugas pembersih. Hal ini terjadi ketika kami akan meninggalkan Ourense dan akan berangkat menuju Madrid. Ketika memindahkan barang menuju bis, Indonesia mendapatkan banyak bantuan dari peserta dari negara lain untuk mengangkat barang bawaan yang cukup banyak dan cukup berat. Setelah itu, kami berangkat menuju KBRI Madrid untuk menitipkan sebagian besar bawaan kami dan langsung melanjutkan perjalanan ke Bandara untuk kemudian berangkat menuju Canary Island.

Tenerife, Spanyol

Canary Island, lebih tepatnya Tenerife yang merupakan salah satu pulau terbesar dari kepulauan ini adalah tempat festival terakhir yang kami datangi. Festival Internacional Muestra Folklorica de los Pueblos. Di tempat ini kami tampil dalam dua kali pertunjukan dalam dua hari. Sebelum menampilkan tarian pada malam hari, siang harinya kami melakukan parade keliling dan menari di jalan sambil mengajak orang-orang sekitar untuk ikut menari bersama. Berbeda di festival-festival sebelumnya dimana kami tampil di panggung yang berbeda setiap harinya, di sini kami tampil di tempat yang sama berturut-turut dan dengan jenis tarian yang sama.  Dalam  festival ini, kami kembali bertemu dengan kelompok dari Argentina dan Senegal. Meskipun kelompok penari yang menampilkan tarian dalam festival ini tidak sebanyak festival lainnya, kami dapat merasakan antusiasme penonton yang cukup besar selama menyaksikan penampilan-penampilan yang ada. Bahkan, di hari pertama pertunjukkan, seusai kami menampilkan tarian Saman dari Aceh, cukup banyak penonton yang memberikan standing applause.  Hal ini kemudian semakin memicu semangat dan motivasi kami untuk menampilkan yang lebih baik lagi keesokan harinya, dimana penampilan tersebut akan menjadi penampilan akhir kami yang menutup serangkaian perjalanan kami di misi budaya tahun ini. Pada pertunjukkan terakhir kami di sana, kami benar-benar berusaha untuk menampilkan yang terbaik, dan hal ini terbayar dengan sambutan penonton yang lebih meriah dibandingkan dengan hari sebelumnya. Selain dalam hal penampilan, Tenerife memberikan suasana yang berbeda dari  festival-festival sebelumnya, di sana kami menginap di hotel yang berlokasi dekat dengan tempat pertunjukkan yang berada di pinggir pantai. Pengaturan seperti ini memberikan beberapa kemudahan bagi kami, yang pertama, kami tidak bermasalah dengan makanan dan kamar, yang kedua karena lokasi hotel yang sangat dekat dengan panggung tempat pertunjukkan, kami tidak perlu terlalu tergesa-gesa dan mengalami kerepotan dalam persiapan untuk menari.

Bagaimanapun juga perjalanan kami jauh dari sempurna, banyak tantangan dan halangan yang ada namun dengan kesabaran dan kekompakan kami, masalah yang ada pun dapat teratasi. Pada tanggal 23 Agustus 2010, tim Misi Budaya KP Tari terbang untuk kembali ke Indonesia. Perjalanan Misi Budaya untuk mengharumkan nama bangsa selama 2 bulan telah dilewati dengan baik dan penuh kesuksesan. Kencana Pradipa Tari berharap program ini dapat kembali berlangsung pada tahun depan di tempat yang berbeda dari tahun ini.

Hiduplah Indonesia Raya

Perjalanan Menaklukkan Gn.Rinjani bersama HiduplahIndonesiaRaya 27Juli’10 – 1Agustus’10

Teks oleh : Umi Akhdadiyah
Foto oleh : Emma Kusumaningsih
Setelah sekian lama memendam keinginan untuk berkunjung di gunung yang cantik ini, akhirnya impiannku terwujud juga….
Pre-Rinjani

Tiket udah diissued dari November tahun lalu, tiket 0 rupiah dari AirAsia,  21.000 IDR per orang, enam orang oke bergabung.

Mendekati hari H, satu persatu dari enam orang berguguran, tinggal tiga cewek yang tetep siap untuk berangkat. Batal adalah alternatif terakhir jika yang berangkat hanya cewek-cewek, alhamdulillah akhirnya Riza jadi berangkat. Seminggu sebelum hari H barulah kepastian berangkat jadi positif.

Aku pun segera issued tiket pulang untuk semuanya, Mataram-Jakarta by LionAir.

Riza : 2 Agustus 2010, 0600 WITA, 660.700 IDR

Emma : 2 Agustus 2010, 0600 WITA, 700.300 IDR

Umi & Pipi : 4 Agustus 2010, 1620 WITA, 620.000 IDR

Telepon Mas Usman porter untuk membicarakan masalah logistik. Aku menyerahkan semua urusan belanja ke mereka, termasuk menu dan belanja buah. Untuk transportasi dari Lembar ke Sembalun, akhirnya kubatalkan karena terlalu mahal, nekad aja lah….
Telepon Kadek Sana untuk jemput kita dari Ngurah Rai dan ngantar ke Padang Bai.
Telepon Mas Supri untuk ngecek kondisi Rinjani, tidak boleh muncak dan tidak boleh nginep di danau!
Cari pinjeman motor untuk muter-muter Lombok, alhamdulillah banyak teman, jadi gampang aja…
So we’re ready to go!!
Selasa, 27 Juli 2010

Dari bangun pagi pas subuh, hujan turun dengan derasnya mengguyur Jakarta, padahal ada beberapa urusan yang belum selesai. Packing ngawur asal semua barang masuk aja, akhirnya berangkat juga ke bandara. Sampai di bandara, bagi-bagi barang dengan Emma biar gak terlalu berantakan ketika masuk bagasi. Riza datang kemudian. Pipi masih terkena macet, jadi akhirnya kami check in duluan, dan jelas harus bayar bagasi, :D . 90.000 IDR untuk pembelian bagasi di bandara (15kg), kalo lewat web menjadi 60.000 IDR.

Pesawat penuh banget dengan wajah-wajah yang sangat excited karena mau liburan, ketemu juga dengan Feli ama suaminya yang mau honeymoon lagi ke Bali. Feli agak tergoda juga untuk ikutan kita ke Lombok, tapi karena kita langsung ke Sembalun, dia gak mau.

Di pesawat gak bisa tidur ternyata, jadinya baca majalah dan ngobrol aja.

Sampai di Ngurah Rai, nyari Kadek Sana yang jemput kita pake Elf 12 seats. Emma pengen makan panas dan berkuah, jadinya kita makan di Jl. Raya Tuban, ada berbagai macam makanan dengan porsi yang ternyata aduhai banyaknya, kita mpe ketawa-ketawa lihat emma yang pesen dua macam makanan dengan porsi besar kewalahan ngabisin pesenannya.

Rabu, 28 Juli 2010

Pukul 0100 WITA kita berangkat dari Tuban menuju Padang Bai, sampai Padang Bai ternyata sudah ada kapal yang mau berangkat. Kapalnya masih baru, kosong dan dinginnya AC membuat kita semua langsung tertidur di kursi panjang itu. Ketakutan akan calo-calo yang ada di pelabuhan Lembar membuat kita gak berani untuk turun kapal ketika pagi itu pukul 0800, kapal merapat. Alhamdulillah dari obrolan dengan seorang sales, kita diajak barengan naek angkot. Dan akhirnya kita charter angkot tersebut untuk nganterin kita ke Sembalun.
Pukul 1200 kita sampailah kita di desa Sembalun nan cantik, penuh dengan bunga-bunga disepanjang jalan. Makan, packing ulang, akhirnya jam 1400 WITA kita berangkat.
Pos Sembalun – Pos 2 Sembalun, 1400 – 1800: 4 jam

Bener-bener jalur yang indah, banyak bunga dan savana rumput yang luas. Emma drop di hari pertama ini karena malam selasa sebelum berangkat dia gak tidur sama sekali. Akhirnya kita memutuskan untuk ngecamp di Pos 2, setelah makan dan ganti baju, kita semua bener-bener tertidur dengan nyenyak, membalas kekurangan tidur malam sebelumnya.
Pos 2 Sembalun dibangun di suatu lembah yang terlindungi oleh bukit-bukit dan terdapat sumber air yang bisa digunakan pendaki untuk menambah persediaan airnya. Jadi udara tidak terlalu dingin karena tidak ada angin yang melewati lokasi ini.
Sayang sekali sampah dimana-mana, menyedihkan dan tentu saja menyebalkan.
Kamis, 29 Juli 2010

Pagi ini kami bangun dengan kondisi yang lebih bugar. Obrolan pagi dan sarapan membuat kami lebih bersemangat untuk menghadapi rute hari ini. Pagi itu tim clean up datang untuk membersihkan jalur.
Sebelum tahun 2010, clean up jalur Rinjani diadakan tiap minggu. Ketika kontrak bersama pihak asing habis di akhir tahun 2009, pihak Taman Nasional Gunung Rinjani tidak memperpanjang kontrak lagi. Hal ini berakibat dengan menumpuknya sampah di berbagai lokasi di jalur Sembalun maupun Senaru.
Ada uang, ada barang!
Harga tiket masuk Taman Nasional Gunung Rinjani
Sebelum 2010 2010
Wisatawan Asing 150.000 25.000
Wisatawan Domestik 25.00 2.500
Dari uang tiket masuk, sudah dibagi-bagi posnya buat apa aja. Tapi uang tersebut sama sekali gak membuat desa menjadi maju, jadi ketika akhirnya harga tiket masuk turun, para porter dan penduduk desa diam saja, karena  selama ini mereka gak menikmati dari uang tiket tersebut.
Jadi pihak Taman Nasional Gunung Rinjani mengadakan clean up jalur setahun sekali, dan jatuhnya tepat hari ini ketika kita berada di Pos 2 Sembalun, kamu akan ketemu mereka lagi sampai 3 hari kedepan.
Ada kabar menyebutkan bahwa akan ada kontrak untuk clean up lagi dari pihak asing dalam waktu dekat ini, sehingga Taman Nasional Gunung Rinjani akan bersih lagi dari sampah.
Pertanyaan-pertanyaan yang muter-muter di otak :
  1. Kenapa sampah2 itu tidak dibawa turun lagi?
  2. Haruskah pihak luar yang peduli dengan Taman Nasional Gunung Rinjani kita?
  3. Bule-bule itu bisa tidak mengubur kotorannya sekaligus dengan tissuenya?
Pos 2 Sembalun – Plawangan Sembalun, 0845 – 1600: 5 jam 15 menit
Jalur yang indah, berbukit-bukit, kata Mas Usman ada 7 bukit, masih berusaha ngitung pas awal-awal, tapi akhirnya males, hahaha… gak habis-habis….
Cuaca masih tetap bersahabat dengan kami. Langit sangat cerah, biru, dengan kabut yang sesekali datang untuk membuat badan kami tidak kepanasan.
Hari ini semua sehat dan semua semangat, alhamdulillah….
Sampai di Plawangan Sembalun, seperti biasa kami kelaparan, hahahaha…. Jadi Mas Umar dan Mas Usman segera mengambil air dan memasak. Kami mendirikan tenda. Pembagian tugas yang dari awal sudah kutetapin, karena selama dijalan, porter berjalan bersama kami, jadi nyampe di camp pun bareng.
Sunset yang indah dengan pemandangan Segara Anak kami nikmati sore itu, tapi angin cukup kencang, jadi setelah puas berfoto-foto dan bercerita sambil minum teh di depan tenda, kami masuk tenda.
Pukul 1900 kami sudah siap tidur, karena besok paginya harus summit attack, jadi kami harus tidur cepat. Tapi akibatnya, tidak ada satupun dari kami yang tidur enak malam itu. Kebiasaan tidur malam di Jakarta membuat kami tidak bisa memejamkan mata.
Jumat, 30 Juli 2010
Akhirnya dinihari itu tiba. Riza keluar tenda untuk membangunkan Mas Usman dan Mas Umar, tapi dia kembali ke tenda tanpa membangunkan mereka, kasihan katanya.. jadilah kami menunggu mereka bangun dengan sendirinya, jam 3 pagi mereka bangun.. dan akhirnya pukul 0400 kami siap berangkat.
Plawangan Sembalun – Puncak Rinjani, 0400 – 0830: 4,5 jam
Semeru gak ada apa-apanya dengan jalur ke puncak Rinjani ini. Serem oiiiii….. Setiap langkah kakiku, yang kulihat hanya sepatu Riza… Jalan pelan-pelan, berusaha menyemangati Riza yang mulai stress dengan medan yang ada di depan mata, terjal dan panjang, dan jalanan berpasir..
Emma mulai berjalan sendirian meninggalkan kita karena Riza lamban sekali…. dan akhirnya Puncak Rinjani 3726 DPL, bahagianyaaaaaaaaaaa……
Foto-foto jelas lah, dengan langit biru, dan segara anak, gunung baru jari keliatan jelas, semua semangat untuk bernarsis ria di puncak yang lebarnya Cuma beberapa meter persegi ini. Gunung Tambora, Gunung Agung, semua keliatan jelas… Oh indahnya…..
Puncak Rinjani – Plawangan Sembalun, 1000 – 1200: 2 jam
Perjalanan turun lebih menakutkan bagiku yang takut akan ketinggian ini. Untung sudah menemukan cara yang membuatku bisa berjalan berdiri (tanpa ngesot) di ketinggian ini. Aku nempel di belakang Riza, jadi yang kulihat hanya kerilku yang dibawa Riza. Tetep penuh perjuangan karena kadang-kadang Riza terlalu cepat sehingga aku ketinggalan.
Tapi semuanya akhirnya berlalu, tebing-tebing mengerikan itu akhirnya bisa kulalui juga..
Setelah makan siang yang menunya membuatku kecewa, akhirnya kita memutuskan langsung turun ke Segara Anak dan ngecamp disana.
Plawangan Sembalun – Segara Anak, 1500 – 1900: 4 jam
Jalan dengan sangat hati-hati, karena kaki dan badan dalam keadaan capek setelah berjalan seharian. Turunan seakan tidak habis-habis. Dengan sabar Mas Usman dan Mas Umar menemani kami yang sangat lamban kali ini.
Radio kali ini beritanya adalah ditemukannya pendaki yang meninggal di sebelah batu itu, di jalanan itu. Anggota tubuh yang berantakan dan berita-berita yang membuat kami semakin berhati-hati dan semakin lamban dalam bergerak.
Dasar Mas Usman dan Mas Umar, bukannya membuat kami nyaman dan yakin bisa melewati turunan menyeramkan ini, malah membuat kami jadi tambah deg-degan.
Sampai di Segara Anak sudah gelap, segera kami mencari lokasi mendirikan tenda, dapat lokasi ternyata di sebelah bivak para porter yang sedang clean up. Kami mendirikan tenda, porter memasak. Setelah ganti baju, kami segera makan malam, dan langsung tidur. Keinginan malam itu untuk berendam air panas segera padam karena kami sangat capek hari ini dan sangat mengantuk. Langit cerah dan bintang bertaburan.
Sabtu, 31 Juli 2010

Pagi yang indah untuk bermalas-malasan. Berjalan-jalan sepanjang danau, melihat orang memancing, memandang gunung baru jari yang mengeluarkan sedikit asapnya…
Akhirnya keinginan untuk makan ikan segara anak terwujud juga. Dikasih oleh Pai, pemancing yang Cuma pengen mancing.
Setelah makan dan masih malas-malasan, akhirnya Mas Umar mengajak kami ke sumber air panas, dengan janji kalo kami tak boleh berendam, akan membuat kita lemas. Pemandangan kearah sumber air panas ternyata indah sekali, kami dengan semangat foto-foto disana-sini. Mas Umar dengan sabar menunggu.
Pertama, nyemplungin kaki… Akhirnya nyemplungin badan, hahaha….dan disinilah memory card emma yang ada di kantong celanaku terjebak batu, . Terima kasih Mas Umar dan Mas Usman… kalian sangat baek….
Setelah puas berendam, kami segera balik ke tenda dan packing.
Segara Anak – Pos 3 Senaru, 1200 – 1600: 4 jam
Indahnya berjalan di sepanjang danau, dan lebih indah lagi tanjakan ke Plawangan Senaru. Dengan langit yang biru, Segara Anak terlihat sangat jelas setiap kali kami berhenti untuk istirahat. Dan tiap-tiap kali, aku membutuhkan bantuan dari teman-teman untuk menjagaku dari ketakutan akan ketinggian, terima kasih semuanya….
Berhenti sejenak menikmati pemandangan yang sangat menakjubkan di Plawangan Senaru, ternyata masih tersisa nanas… horeeee…..
Turun menuju Pos 3 Senaru membutuhkan sedikit tenaga, karena aku sama Emma pake pantat, hahaha…. dan setelah melewati turunan, akhirnya jalan datar diantara taman yang indah, sayang dikotori oleh tissue disana-sini.
Pos 3 Senaru, akhirnya…. kali ini para cowok (porter dan Riza) yang mendirikan tenda kami, kami cewek-cewek tetep duduk-duduk di pendopo yang ada, hehehe…. Setelah tenda berdiri, ganti baju, sangat malas buat kami keluar tenda karena dinginnya malam. Malam terakhir, harus dinikmati kata Riza yang katanya sedang memandang bintang… Yang penting enak sekali pancake pisang bikinan Mas Usman dan Mas Umar!
Setelah kami semua makan, kami langsung masuk tenda dan menikmati malam terakhir dengan pijit-pijitan, hahaha…. akhirnya Mas Umar dan Mas Usman ikutan masuk tenda dan memijit kami semua. Dengan teriakan yang tertahan oleh sleepingbag/jaket yang kami gigit, sempurnalah malam itu… :D
Minggu, 1 Agustus 2010
Pagi ini kami bener-bener santai, menikmati pagi, hari terakhir kami di Rinjani, memandang monyet-monyet yang sangat banyak di pohon, melihat tingkah bule-bule yang ada… Kami satu-satunya tamu Indonesia yang di Pos 3 Senaru waktu itu…
Pos 3 Senaru – Rinjani Trekking Centre Senaru, 0900 – 1330: 4,5 jam
Perjalanan kali ini semua merasa dalam kondisi fit. Mungkin karena sudah dipijat malam sebelumnya. Aku senang Pipi bisa berlari waktu turun, jadi perjalanan menjadi agak cepat. Dengan semangat akan ketemu minuman dingin di gerbang Senaru, kami mulai berlari turun. Bekal nasi sudah kami kurangi waktu di Pos Extra, jadi kami agak lebih punya tenaga lagi untuk berlari.
Senangnya kami ketika sampai di Gerbang Senaru, setelah menikmati minuman dingin, kami berjalan lagi menuju RTC Senaru. Begitu sampai, aku langsung mencari mobil charteran mobil untuk ke Mataram.
Di Senaru inilah kami berpisah dengan porter-porter kami, Mas Umar dan Mas Usman. Terima kasih buat segalanya ya Mas….
Ucapan terima kasih kami tujukan untuk :
  1. Orang tua kami, dengan doanya
  2. Mas Umar dan Mas Usman, porter kami
  3. Hiduplah Indonesia Raya
  4. Indonesia Bertindak
  5. …dan teman-teman kami yang selalu mendoakan kami.
Kontak :
  1. Mobil di Bali, Bandara Ngurah Rai – Pelabuhan Padang Bai - Kadek Sana, 0811399986, 300.000 IDR, ELF 12 seats
  2. Charter dari Pelabuhan Lembar – Sembalun - Pak Uri, 081907039917 , 400.000 IDR, CARRY 6 seats
  3. Porter, 100.000 IDR/hari, nganterin ke Puncak extra 100.000 IDR/porter Sembalun, Mas Umar dan Mas Usman (kakak beradik), 081916319602
  4. Rinjani Trekking Centre Sembalun - Mas Supri, 081805725754
  5. Mobil di Lombok, Senaru – Mataram - Ferry, 081805777177, AVANZA, 300.000 IDR
Budget kami per orang 915.000 IDR, sudah termasuk :
  1. Makan tengah malam di Tuban
  2. Bandara Ngurah Rai – Pelabuhan Padang Bai
  3. Kapal Ferry @31.000 IDR
  4. Pelabuhan Lembar – Sembalun
  5. Makan siang di Sembalun
  6. Logistik total 700.000 buat berenam selama 5 hari, dibelanjain porter
  7. Biaya porter : Mas Umar 500.000, Mas Usman 600.000, transport mereka 100.000
  8. Senaru – Mataram
  9. Makan malam Ayam Taliwang di Mataram
  10. Taksi Mataram-Senggigi-Mataram-Hotel
Budget tidak termasuk :
  1. Tiket Pesawat PP
  2. Airport tax
  3. Bagasi pesawat
  4. Hotel Viktor 1 di Cakranegara, @80.000 IDR per room
  5. Taksi ke bandara
  6. Oleh-oleh
Menu di Rinjani :
  • Rabu malam : nasi, pecel kol dan wortel, telur ceplok, pisang goreng
  • Kamis pagi : nasi goreng
  • Kamis sore : nasi, sup, telur rebus
  • Jumat dinihari : nasi, oseng kol + suwir ayam
  • Jumat siang : nasi, mie rebus, pisang goreng
  • Jumat malam : nasi, sup, ayam goreng
  • Sabtu pagi : nasi, kornet goreng, ikan goreng, sambal
  • Sabtu malam : nasi, sop, telur rebus, pancake pisang
  • Minggu pagi : nasi, mie rebus plus sosis
  • Minggu siang : nasi goreng
  • Buah : nanas, apel, jeruk, pisang
Hiduplah Indonesia Raya